28.2.13

Mahluk Pencari Makna


Manipulasi adalah tanda bahwa salah satu atau kedua pihak yang terlibat dalam sebuah hubungan manipulatif  belum sepenuhnya menyadari makna dirinya sebagai manusia. Dalam hubungan manipulatif, kita tidak lebih dari aktor-aktor dalam sebuah jaring-jaring makanan antara manusia "memangsa atau dimangsa". Lalu, apa yang membedakan kita dari mahluk-mahluk dalam setara evolusi? Apakah kita tidak lebih dari sekedar primata atau hewan pemangsa yang bahkan memangsa sesamanya dalam usaha untuk bertahan hidup?
Tidak, kita berbeda, karena kita adalah mahluk yang memiliki kesadaran-kesadaran akan makna. Kita berbeda, berbeda karena kita bisa merasa heran, karena kita mampu bertanya mepertanyakan sesuatu yang janggal dalam kacamata kita dan bertindak. Kita berbeda, karena adalah totalitas yang terdiri dari tiga dimensi "fisik, psikologis,dan spiritual". Karena itulah untuk bisa bersama-sama keluar dari situasi manipulatif kita mestinya bertanya....
    “Apa yang harus aku lakukan dalam situasi seperti ini” ?
            Untuk mencapai sebuah hubungan yang sejajar, sebuah hubungan Aku-Kamu. Bersama dengan itu, kita harus selalu bertanya dan mencari makna serta identitas diri kita sebagai manusia. Itulah dasar yang melandasi sebuah hubungan baik dalam bentuk apapun.
Yang menarik dari manipulasi itu saya pernah membaca dalam sebuah literatur seorang penulis “Benedict Hanggu” menuliskan apakah manipulasi itu. Berikut adalah  tulisan yang saya kutip dalam sebuah prosanya yang mempunyai pemaknaan yang amat dalam ….

            Aku tak tertarik apa mata pencaharian mu. 
Aku ingin tau apa yang kau dambakan, dan apakah kau berani mengimpikan bertemu dengan pujaan hatimu.
           Aku tak tertarik berapa usia mu.
Aku ingin tahu apakah kau mau mengambil resiko terlihat bodoh demi cinta, demi cita-cita, demi petualangan hidup yang sepenuhnya. 
            Aku tak tertarik planet apa yang menempati bulanmu.
Aku ingin tahu apakah kau telah menyentuh pusat dukamu sediri, jika kau telah dibukakan oleh penghianatan hidup atau telah menjadi layu dan tertutup, karena takut disakiti lagi !
Aku ingin tahu apakah kau bisa duduk  bersama rasa sakit, Sakitku atau sakitmu, tanpa mencoba menyembunyikannya, atau memudarkannya atau  memperbaikinya.
Aku ingin tahu apakah kau bisa berada bersama suka cita,
Sukaku atau sukamu, jika kau bisa menari dengan alam liar dan membiarkan keringanan mengisimu hingga ujung  jemari kaki dan tanganmu tanpa mengingatkan kita untuk berhati-hati, bersikap realistis, atau mengingat keterbatasan manusia.
Aku tak tertarik cerita yang kau kisahkan itu benar.
Aku ingin tahu apakah kau bisa mengecewakan orang lain agar jujur  pada dirimu, jika kau dapat menanggung tuduhan penghianatan dan tidak menghianati jiwamu sendiri.
Aku ingin tahu apakah kau bisa setia dan karenanya dapat dipercaya.
          Aku ingin tahu apakah kau dapat melihat keindahan meskipun tidak setiap hari elok, dan jika kau dapat menyumberkan hidupmu dari kehadiran Tuhan.
Aku  ingin tahu apakah kau bisa hidup dengan kegagalan, gagalmu dan gagalku, dan tetap berdiri pada sisi danau dan berteriak pada bulan keperakan, “YA”!
Aku tak tertarik pada tempat tinggalmu atau seberapa banyak uang yang kau miliki.
Aku ingin tahu, apakah kau bisa bangkit setelah semalam berduka dan merana,lelah, babak belur,
dan melakukan apa yang perlu dilakukan demi anak-anak.
Aku tidak tertarik siapa dirimu atau bagaiman kau bisa tiba-tiba disini.
Aku ingin tahu apakah kau mau berdiri di tengah api bersamaku dan tidak mundur teratur.
Aku tidak tertarik dimana atau dengan siapa kau belajar.
Aku ingin tahu apa yang menjagamu dari dalam, saat segala hal berjatuhan.
Aku ingin tahu apakah kau bisa sendirian bersama dirimu,
dan apakah kau benar-benar menyukai temanmu di saat-saat hampa. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengapa Kurikulum Perlu Berubah ?

  Oleh Eka Jati Ashari Dalam dunia pendidikan adanya kurikulum sangatlah penting. Arah dan tujuan pendidikan diatur di dalam kurikulum sehin...