Manipulasi adalah tanda bahwa salah
satu atau kedua pihak yang terlibat dalam sebuah hubungan manipulatif belum sepenuhnya menyadari makna dirinya
sebagai manusia. Dalam hubungan manipulatif, kita tidak lebih dari aktor-aktor
dalam sebuah jaring-jaring makanan antara manusia "memangsa atau dimangsa".
Lalu, apa yang membedakan kita dari mahluk-mahluk dalam setara evolusi? Apakah
kita tidak lebih dari sekedar primata atau hewan pemangsa yang bahkan memangsa
sesamanya dalam usaha untuk bertahan hidup?
Tidak, kita berbeda, karena kita
adalah mahluk yang memiliki kesadaran-kesadaran akan makna. Kita berbeda,
berbeda karena kita bisa merasa heran, karena kita mampu bertanya mepertanyakan
sesuatu yang janggal dalam kacamata kita dan bertindak. Kita berbeda, karena
adalah totalitas yang terdiri dari tiga dimensi "fisik, psikologis,dan spiritual". Karena
itulah untuk bisa bersama-sama keluar dari situasi manipulatif kita mestinya
bertanya....
“Apa yang harus aku
lakukan dalam situasi seperti ini” ?
Untuk mencapai sebuah hubungan yang sejajar, sebuah hubungan
Aku-Kamu. Bersama dengan itu, kita harus selalu bertanya dan mencari makna
serta identitas diri kita sebagai manusia. Itulah dasar yang melandasi sebuah
hubungan baik dalam bentuk apapun.
Yang menarik dari manipulasi itu saya
pernah membaca dalam sebuah literatur seorang penulis “Benedict Hanggu” menuliskan
apakah manipulasi itu. Berikut adalah tulisan yang saya kutip dalam sebuah prosanya
yang mempunyai pemaknaan yang amat dalam ….
Aku tak tertarik apa mata
pencaharian mu.
Aku ingin tau apa yang kau dambakan, dan apakah kau berani
mengimpikan bertemu dengan pujaan hatimu.
Aku tak tertarik berapa usia mu.
Aku ingin tahu apakah kau mau mengambil resiko terlihat
bodoh demi cinta, demi cita-cita, demi petualangan hidup yang sepenuhnya.
Aku tak tertarik planet apa yang menempati bulanmu.
Aku ingin tahu apakah kau telah
menyentuh pusat dukamu sediri, jika kau telah dibukakan oleh penghianatan hidup
atau telah menjadi layu dan tertutup, karena takut disakiti lagi !
Aku ingin tahu apakah kau bisa duduk bersama rasa sakit, Sakitku atau sakitmu, tanpa mencoba menyembunyikannya, atau
memudarkannya atau memperbaikinya.
Aku ingin tahu apakah kau bisa berada
bersama suka cita,
Sukaku atau sukamu, jika kau bisa menari dengan alam liar
dan membiarkan keringanan mengisimu hingga ujung
jemari kaki dan tanganmu tanpa mengingatkan kita untuk berhati-hati,
bersikap realistis, atau mengingat keterbatasan manusia.
Aku tak tertarik cerita yang kau
kisahkan itu benar.
Aku ingin tahu apakah kau bisa mengecewakan orang lain agar
jujur pada dirimu, jika kau dapat
menanggung tuduhan penghianatan dan tidak menghianati jiwamu sendiri.
Aku ingin tahu apakah kau bisa setia dan karenanya dapat
dipercaya.
Aku ingin tahu apakah kau dapat melihat keindahan meskipun
tidak setiap hari elok, dan jika kau dapat menyumberkan hidupmu dari kehadiran
Tuhan.
Aku
ingin tahu apakah kau bisa hidup dengan kegagalan, gagalmu dan
gagalku, dan tetap berdiri pada sisi danau dan berteriak pada bulan keperakan, “YA”!
Aku tak tertarik pada tempat
tinggalmu atau seberapa banyak uang yang kau miliki.
Aku ingin tahu, apakah kau bisa bangkit setelah
semalam berduka dan merana,lelah, babak belur,
dan melakukan apa yang perlu dilakukan demi anak-anak.
Aku tidak tertarik siapa dirimu
atau bagaiman kau bisa tiba-tiba disini.
Aku ingin tahu apakah kau mau berdiri di tengah api bersamaku
dan tidak mundur teratur.
Aku tidak tertarik dimana atau dengan siapa kau
belajar.
Aku ingin tahu apa yang menjagamu
dari dalam, saat segala hal berjatuhan.
Aku ingin tahu apakah kau bisa sendirian bersama dirimu,
dan apakah kau benar-benar menyukai temanmu di saat-saat hampa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar